Case Study: Remote Control Productions, Monopoli Industri dan Value

Posted by 3Motion on Sep 11, 2019

Saat sutradara Barry Levinson mengetuk pintu sebuah studio di London pukul 11 malam, ia merekrut Hans Zimmer sebagai komponis untuk film Rain Man. Langkah ini jadi awal perubahan industri film scoring. Melalui film Rain Man, Hans Zimmer meraih nominasi Oscar pertamanya tahun 1989. Tahun itu juga Hans Zimmer mendirikan perusahaan yang kini dikenal sebagai raksasa film scoring: Remote Control Productions, Inc.

Dominasi Industri

(Hans Zimmer, Remote Control & The Blockbuster Score-making. Source: Buzzfeed)

Remote Control mendominasi industri dengan menguasai pasar film blockbuster. Portfolio film mereka meliputi seri Pirates of the Caribbean, Iron Man, film-film Christopher Nolan (trilogi Dark Knight, Inception, Interstellar, Dunkirk), deretan film animasi seperti Lion King dan Kung Fu Panda dan masih banyak lagi.

Selain film, Remote Control bahkan sudah merambah ke produksi scoring untuk game. Metal Gear, The Sims 3, Gears of War 2 hingga berbagai seri Call of Duty jadi portfolio video game scoring mereka.

 

Dermaga untuk Komponis Muda

Ramin Djawadi. Sc: GQ.com

(Ramin Djawadi. Source: GQ)

Selain dominan di industri, Remote Control juga jadi dermaga untuk berbagai komponis. Tidak sedikit komponis-komponis muda dimentori langsung oleh Hans Zimmer sendiri. Ditambah lagi, komponis Remote Control berkesempatan untuk berkarya dalam proyek-proyek besar.

Komponis muda yang berkarya lewat Remote Control Productions antara lain: Ramin Djawadi (Game of Thrones), Lorne Balfe (Mission: Impossible – Fallout), dan Toby Chu yang beberapa waktu lalu meraih Oscar untuk film pendek Bao. Musisi besar seperti will.i.am dan Pharell Williams juga masuk daftar komponis yang bekerja dengan Hans Zimmer di Remote Control Productions.

 

Monopoli

(Hans Zimmer. Source: GQ)

Kesuksesan Remote Control Productions tidak selalu menuai pujian. Beberapa pemerhati industri mengkritik monopoli Remote Control yang menguasai jajaran proyek blockbuster. Beberapa bahkan beranggapan bahwa sebagian besar film garapan Remote Control terkesan monoton alias punya ‘resep’ turunan  yang serupa meski tak sepenuhnya sama. 

Kritik juga mengarah pada bagaimana film blockbuster lebih memilih yang sudah punya nama besar seperti Hans Zimmer dan Remote Production. Fenomena ini dinilai kurang sehat karena komponis independen seringkali kalah bersaing dengan nama-nama besar dengan portfolio blockbuster.

 

It’s about the value

Pro dan kontra yang ada tidak menutup kenyataan yang ada. Perusahaan besar seperti Remote Control dengan nama mentereng Hans Zimmer dan jajaran komponis lainnya lebih digandrungi. Mereka pun juga punya nilai serta kualitas sendiri. Remote Control memberikan hasil kerja dengan formula yang sudah terbukti disukai publik. Nama besar Hans Zimmer sebagai komponis turut berperan dalam meningkatkan popularitas film.

Di Indonesia pun, monopoli oleh nama-nama besar juga terjadi meski tidak berarti menguasai sepenuhnya. Yang bisa dipelajari dari dominasi industri oleh Remote Control adalah value yang diberikan pada client ataupun audiens, bahkan kepada komponis yang bekerja di dalamnya. Value itu tidak bisa dikesampingkan meski digempur badai kritik.

Remote Control memang mendominasi dan terkesan memonopoli, tapi value yang diberikan terbukti membawakan kesuksesan: nominasi bergengsi, pamor mendunia serta berhasil mencetak komponis-komponis yang siap berkarya.

 

Ada banyak strategi bagi perusahaan dan brand untuk mengembangkan value untuk audiens, pelanggan dan internal talent. Untuk konsultasi mengenai brand value dan strategi brand, hubungi 3Motion di sini.

 

3Motion.co.id

Beyond Creative

 

Share This Article