Deepfake: Sisi Positif di Balik Impresi Negatif

Posted by 3Motion on Oct 24, 2019

Teknologi hasil pengembangan Artificial Intelligence berbasis Human Image Synthesis ini mencuat pertama kali pada tahun 2017, ketika seorang pengguna Reddit mengunggah video porno palsu yang mana wajah pemainnya diganti dengan wajah aktris Hollywood. Belakangan sempat beredar pula video politikus tengah memberi pernyataan kontroversial yang sebenarnya tidak pernah dinyatakan, sehingga menimbulkan kesalahpahaman publik. Kejadian-kejadian tersebut pun berimbas pada keresahan akan penyebaran informasi hoax di internet.

 

Bagaimana cara kerja deepfake?

(Sc: Wired)

Hanya dengan memasukkan gambar atau video referensi ke dalam deepfake encoder untuk digabungkan dengan gambar atau video yang ingin dimanipulasi, ekspresi wajah, suara, sampai gestur tubuh seseorang bisa direkayasa dengan mudah dan cepat. Bisa dibayangkan betapa efektifnya teknologi canggih ini untuk dijadikan senjata dalam aksi kejahatan, seperti blackmail, pencemaran nama baik, revenge porn, atau pencurian identitas. Barack Obama, Donald Trump, Scarlett Johansson, Emma Watson, dan banyak tokoh lain telah menjadi korban penyalahgunaan deepfake.

Namun, di balik segala ancamannya, deepfake sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan hal-hal positif.

 

Jadi, apa saja kegunaan deepfake?

Deepfake dapat digunakan di berbagai sektor industri untuk meningkatkan penjualan. Ritel adalah contoh nyatanya. Untuk menarik konsumen, beberapa perusahaan kini memasarkan produk dengan menggunakan teknologi yang memungkinkan pelanggan untuk mencoba berbagai produknya secara virtual.

(Sc: Gucci)

Merek fashion Gucci telah menggunakan strategi marketing ini. Melalui aplikasi yang dapat mendeteksi kaki konsumen dengan kamera smartphone, pelanggan bisa mencoba koleksi sepatu Gucci tanpa harus datang ke toko. Deepfake yang dapat mengubah wajah dan badan pun bisa menjadi solusi untuk konsumen yang tertarik mencoba produk pakaian, celana, maupun model rambut.

Selanjutnya, dengan dibekali data konsumen untuk mengelompokkan segmen pasar, perusahaan bahkan bisa membuat iklan yang lebih personal dengan menyesuaikan konten dengan target market. Misalnya, memanipulasi suara bintang iklan agar berbicara dalam bahasa asli konsumen, meski sebenarnya sang bintang iklan tidak menguasainya.

Sama halnya dengan industri hiburan. Deepfake bisa diterapkan sebagaimana teknologi CGI merekayasa wajah para aktor dan aktris yang telah tiada agar bisa tetap berperan sebagai karakternya. Beberapa contohnya adalah rekayasa Paul Walker di Fast and Furious 7 dan Carrie Fisher di Star Wars: The Force Awakens. Improvisasi wajah dan suara stuntman untuk dibuat mirip dengan wajah dan suara pemeran asli pun tak mustahil dilakukan.

(Sc: Disney-Star Wars)

Selalu ada sisi baik dan sisi buruk dari sebuah kemajuan. Alih-alih menyalahkan teknologi deepfake yang diprediksi akan semakin sempurna ini, lebih baik melihat sisi positifnya, sehingga kita bisa memanfaatkannya dengan lebih cerdas. Jika digunakan dengan tepat, deepfake berpotensi memancing kelahiran berbagai konten digital yang lebih kreatif di masa depan.

Terkait pembuatan berbagai konten digital kreatif dan pengembangan strategi konten digital brand Anda!, ayo hubungi 3Motion di hello@3motion.id untuk membuat 

3motion.co.id

Beyond Creative

 

Share This Article