Silent Spreader Lebih Membahayakan?

Posted by 3Motion on Mar 30, 2020

Dengan bertambahnya jumlah kasus Coronavirus, masyarakat patut lebih berwaspada lagi. Tidak sedikit orang yang positif terkena Coronavirus tanpa menunjukkan gejala atau asimtomatik yang disebut dengan silent spreader atau asymtomatic carrier.

Silent spreader terlihat sehat, bugar, dan orang yang terjangkit diam-diam ini tidak menyadari sendiri bahwa ia terkena Coronavirus. Menurut kajian ilmiah CDC Energing Infectious Disease, lebih dari 10 persen pasien terinfeksi oleh seseorang yang terjangkit Coronavirus  namun tak bergejala.

Image result for corona virus 

Sumber: RNews UK

 

Seperti kasus yang terjadi saat Febuari 2020 kemarin, adanya tiga orang dinyatakan positif coronavirus, setelah menghadiri acara konferensi Biogen yang berlangsung di Boston Marriott Long Wharf. Meskipun begitu, mereka sama sekali tak menunjukkan gejala apa pun. Begitupun yang ditemukan di sejumlah negara yang lain, termasuk Indonesia. 

Kasus Coronavirus asimtomatik di Indonesia sendiri diasumsikan bisa lebih dari puluhan ribu, menurut prediksi London School of Hygiene and Tropical Medicine. Faktornya? Respon tubuh yang terlambat dan tes klinis yang minim.

Sejauh ini pemerintah hanya dapat memfasilitasi tes Coronavirus sebanyak 2.863 orang, dan dengan tes klinis pun, tetap akan sulit menunjukkan apakah seseorang terkena Coronavirus atau tidak. Tidak hanya itu, silent spreader biasanya berada pada usia yang muda. Karena angka usia yang lebih muda cenderung lebih kuat, orang lebih banyak berasumsi bahwa “yang muda tidak mudah sakit”. 

“Mengingat kecepatan penyebaran Coronavirus, tampaknya masuk akal bahwa orang yang menunjukkan gejala atau sedikit gejala memainkan peran dalam menyebarkan virus,” tutur Nate Favini, Kepala Layanan Kesehatan Preventif Forward Amerika Serikat kepada Health.

Itu artinya penyebaran Coronavirus lebih cepat dan berbahaya, tergantung dengan banyaknya interaksi. Tanpa diketahui adanya gejala, korban sendiri tidak akan merasa khawatir karena tidak menunjukkan gejala, kemungkinan menyepelekan upaya preventif Coronavirus . 

Bahayanya lagi, Coronavirus yang terus bermutasi ini tidak hanya dapat ditularkan melewati liquid droplet seperti bersin, cairan hidung, atau saliva, tetapi memiliki potensi besar menjadi airborne. The New England Journal of Medicine mengungapkan bahwa mutasi Coronavirus dapat tahan 3 jam sampai berhari-hari di permukaan plastik dan stainless steel. Fakta ini semakim membuat silent spreading sangat penting untuk dipahami dan diantisipasi oleh semua orang.

Belum adanya penawar yang teruji klinis untuk virus Coronavirus membuat social distancing semakin krusial untuk mencegah melonjaknya jumlah kasus. Warga terus Diimbau agar tetap di rumah, hindari keramaian dan selalu mensterilkan tangan dengan sabun atau hand sanitizer. Diharapkan tes massal segera bisa dilakukan sehingga penderita bisa dikarantina dan dirawat untuk menghentikan penyebaran virus ini.

Share This Article